Muara Teweh – Pemerintah Kabupaten Barito Utara menempuh strategi baru dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bukan hanya mengandalkan petugas pemadam dan aparat, Bupati H. Shalahuddin kini menggulirkan sistem “pertahanan masyarakat semesta” dengan melibatkan seluruh lapisan warga hingga tingkat RT.
Penegasan itu disampaikan Shalahuddin saat memimpin rapat koordinasi penanggulangan karhutla di Aula Kecamatan Teweh Selatan, Selasa (15/9/2026). Rakor tersebut dihadiri Wakil Bupati Felix Sonadie Y. Tingan, Sekretaris Daerah Muhlis, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan petugas untuk memadamkan api. BPBD, Damkar, TNI, Polri, dan Manggala Agni juga bisa kewalahan. Karena itu, saya minta kita membangun sistem pertahanan terpadu, yaitu pertahanan masyarakat semesta dalam menghadapi karhutla,” tegas Shalahuddin.
Bupati menyoroti sejumlah wilayah yang perlu mendapat perhatian serius, yakni Kecamatan Teweh Selatan, Teweh Baru, Teweh Tengah, dan Montallat. Ia meminta kepala desa, lurah, ketua RT, tokoh adat, dan seluruh masyarakat menjaga wilayah masing-masing.
“Setiap titik api maupun aktivitas mencurigakan harus segera dilaporkan agar dapat ditindaklanjuti sebelum api meluas,” pintanya.
Sebagai langkah percepatan pemantauan, Shalahuddin menginstruksikan seluruh drone milik Pemkab Barito Utara diterbangkan untuk pengawasan udara.
“Semua drone yang dimiliki pemerintah daerah kita terbangkan. Yang bisa menjangkau tiga kilometer atau lima kilometer, kita manfaatkan. Kita ingin melihat titik api berada di mana dan bagaimana perkembangannya,” katanya.
Menyusul indikasi aktivitas pembakaran yang diduga terjadi pada malam hari, Bupati meminta sistem keamanan lingkungan (siskamling) kembali diaktifkan.
“Kita aktifkan kembali siskamling mulai malam ini. Saya juga akan turun ke lapangan. Kita lihat bersama, apakah ada perubahan titik api ketika masyarakat ikut berjaga,” tegasnya.
Shalahuddin mengaku telah berkoordinasi dengan Kapolres Barito Utara, Dandim 1013/Muara Teweh, dan Kepala Kejaksaan Negeri Barito Utara terkait penanganan karhutla, termasuk bila ditemukan unsur kesengajaan.
“Ini masih dugaan, bukan menuduh. Karena itu, selain pencegahan dan penanganan, kita juga meminta segera dilakukan penegakan hukum apabila memang ditemukan pelanggaran,” ujarnya.
Ia menegaskan tak ada toleransi bagi pembakar lahan. “Kalau memang ada yang membakar, tangkap. Sudah tidak ada toleransi lagi. Tetapi, sekali lagi, ini masih dugaan dan harus dibuktikan,” katanya.
Bupati juga mengingatkan dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan informasi yang diperolehnya saat berkunjung ke rumah sakit, jumlah pasien melonjak.
“Di rumah sakit tadi malam, IGD seperti pasar. Pasien rawat inap sekitar 122 orang. Penyakitnya bermacam-macam, termasuk ISPA. Artinya, dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat luar biasa,” ungkapnya.
Karena itu, Bupati meminta wilayah dengan konsentrasi titik api terbanyak segera dipetakan dan personel dibagi berdasarkan wilayah.
“Setelah rapat ini, kita petakan wilayahnya. Kita bagi personel untuk menjaga. Masyarakat juga kita libatkan. Titik pelaporan dan nomor kontak harus jelas sehingga ketika ada api, segera diketahui dan ditangani,” pungkas Shalahuddin. (*)
Tidak ada komentar