
MUARA TEWEH – Detik-detik kebakaran simulasi mengguncang suasana kantor BRI Branch Office Muara Teweh, Kamis (9/4/2026). Bukan kepanikan nyata, ini adalah geladi evakuasi dan penanggulangan bahaya kebakaran dalam rangkaian program tahunan Business Continuity Management (BCM).
Seluruh karyawan dikerahkan merespons skenario darurat. Tak sekadar berlarian keluar, mereka mengaktifkan prosedur tanggap darurat, mengoperasikan alat pemadam api ringan (APAR), lalu berhamburan menuju titik kumpul yang telah ditentukan.
Pemimpin BRI Branch Office Muara Teweh, Dwi Nur Cahyo, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas. “Kami memastikan seluruh pekerja memiliki kesiapan dan pemahaman yang baik dalam menghadapi kondisi darurat, khususnya risiko kebakaran. Ini komitmen kami menjaga keselamatan pekerja, melindungi nasabah, serta memastikan layanan tetap optimal,” ujarnya.
Simulasi ini menjadi uji nyata efektivitas Business Continuity Plan (BCP). Aspek yang dinilai meliputi kecepatan respons, ketepatan keputusan, hingga koordinasi antartim. Sebab, gangguan tak hanya datang dari kebakaran, melainkan juga bencana alam, gagal sistem teknologi informasi, hingga krisis lain yang bisa mengganggu layanan perbankan.
Setidaknya ada empat target utama yang ingin dicapai BRI melalui BCM berkelanjutan: menjaga stabilitas layanan perbankan, melindungi kepentingan nasabah, meminimalisir dampak risiko operasional, serta meningkatkan kesiapsiagaan pekerja.
Dengan rutinitas tahunan ini, BRI Muara Teweh membuktikan bahwa bank pelat merah itu tak hanya mengandalkan sistem digital, tetapi juga kesiapan manusia dan prosedur di lapangan. Harapannya, dalam kondisi apa pun—termasuk darurat—nasabah tetap percaya: layanan BRI tak mudah padam.

You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar