MUARA TEWEH – Gelombang perlambatan di sektor pertambangan batu bara berimbas langsung pada kesehatan fiskal dan ekonomi Barito Utara. Sekretaris Daerah setempat, Drs Muhlis, mengonfirmasi bahwa penurunan produksi komoditas andalan itu menjadi biang kerok anjloknya dana transfer pusat hingga 71% untuk tahun 2026.
“Penerimaan dana transfer daerah disebabkan faktor kurangnya hasil produksi batu bara di Barito Utara. Sehingga memicu kurangnya pendapatan dari hasil Minerba,” jelas Muhlis dalam sebuah simposium, Senin (29/9/2025).
Dampaknya tidak berhenti di kas daerah. Muhlis menyatakan hal ini telah memicu penurunan pertumbuhan ekonomi Barito Utara. Fakta ini memperlihatkan kerentanan ekonomi daerah yang masih bergantung pada satu sektor primadona.
Dengan realitas baru ini, Pemkab tidak memiliki pilihan lain selain melakukan efisiensi besar-besaran. Langkah ini menjadi penyesuaian pahit untuk mengantisipasi defisit anggaran yang mencapai Rp 1,8 triliun, sebuah angka yang sangat signifikan bagi perekonomian daerah. (Rizali)
Tidak ada komentar