Krisis BBM Mencekik Warga Barito Utara: Pertamax Tembus 30 Ribu Rupiah, Aktivitas Ekonomi Terancam Lumpuh

redaksi
3 Des 2025 22:00
4 menit membaca

MUARA TEWEH-Hari-hari ini Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite dan Pertamax di Barito Utara langka. Beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Muara Teweh yang tidak memiliki stok BBM terlihat sepi, sedangkan SPBU yang memiliki stok BBM tampak terlihat antrian panjang kendaraan roda dua hingga roda enam. Mereka menunggu giliran dengan harapan mendapat jatah minyak untuk menggerakan roda kendaraan yang tentu adalah roda ekonomi.

Tak hanya fakta SPBU sepi dan antrian panjang, fakta lain yang cukup miris ialah mencekiknya harga BBM dilevel pengecer. Per 3 Desember 2025, harga pertamax ditingkat pengecer tembus 30 ribu rupiah, sedangkan pertalite 25 ribu rupiah.

“25 mas kalau pertalite, ini juga sisa dua liter lagi. Kalau pertamax 30 ribu rupiah. Barangnya sisa satu liter ja lagi,” ujar acil Ani salah satu pedagang sembako yang juga menjual BBM eceran saat ditemui awak media ini, Rabu 3 Desember 2025.

“Ini di Jingah sudah 20 ribu pertalite. Ngeri benar. Lama-lama bejalan betis (red:jalan kaki) kalau mahal begini,” tambah Raschal, seorang warga Teweh Selatan kepada media ini usai membeli BBM eceran dengan harga tak wajar pada hari yang sama.

Tak hanya harga yang mencekik, kelangkaan BBM di Barito Utara sangat mempengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat. Ibrahim, seorang penjual air galon memilih untuk tidak mengantar air minum ke pelanggan dengan alasan harga minyak mahal dan juga jarang ditemui dieceran atau langka.

“Ini sisa satu kotak cukup untuk jemput anak, kalau untuk antar galon dua tiga kali habis minyaknya. Ya kalau ada yang jual di warung, kalau tidak ada bisa pakai dorong,” ujar pria tua itu sedikit berkelakar dengan awak media.

Kisah Raschal dan Ibrahim tentu juga menjadi deretan kisah sebagian masyarakat Barito Utara hari-hari ini. Baik di Kota maupun di pelosok desa tentu memiliki cerita yang sama dihadapan kenyataan langkanya BBM. Bahkan beberapa obrolan dimedia sosial yang disimak awak media ini, kelangkaan BBM yang meresahkan ini bisa mengganggu aktivitas para ASN dipelosok desa yang melayani masyarakat dibidang kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

“Bagaimana dengan petugas kesehatan di kampung-kampung kalau motor atau mobilnya minyak tidak ada atau mahal, pasti cukup mengganggu pelayanan. Guru yang mengajar dipelosok ketika kehabisan BBM ditengah jalan dan lain sebagainya, bagaimana nasibnya,” tulis salah seorang netizen mewarnai postingan di salah satu akun facebook.

Terhadap kelangkaan BBM yang menjadi sorotan publik, salah satu pengelolah SPBU di Muara Teweh berinisial K menjelaskan bahwa sudah dua minggu pihaknya mendapat jatah BBM tak seperti biasanya.

“Sudah 2 minggu ni bang pengiriman ke kita tidak seperti biasanya. Kendalanya bukan di kami. Itu di Pertamina kendalanya,” ujarnya saat ditemui awak media ditengah para pengendara yang sedang mengantri BBM, Rabu 3 Desember 2025.

Saat ditanya terkait alasan dari pertamina, pria muda itu juga mengakui tidak mengetahui. “Nah kalau alasan pastinya kami sendiri juga tidak tahu bang,” terangnya singkat.

 

Lanjutnya, menghadapi kondisi saat ini, pihaknya sudah maksimal memberikan batasan kepada para pengendara motor dan mobil untuk mengisi BBM dengan jumlah yang terbatas agar semua bisa mendapatkan minyak.

“Kondisi seperti ini ketika ada minyak yang datang ya kami atur semaksimal mungkin agar tidak ada yang nakal dan juga konsumen bisa dapat semuanya. Tidak ada yang double mengisinya,” terangnya seraya mengatur beberapa pengendara.

Hampir senada dengan K yang mengeluh soal kekurangan kuota dan tak menentunya pengiriman dari depo Pertamina, Direktur PT Perusda Batara Membangun, Asianoor Alihazeki saat ditemui  menjelaskan bahwa antrian panjang para pengendara sepeda motor dan mobil di SPBU Perusda sudah hampir sebulan. Hal ini bukan karena stok BBM yang berkurang ditempatnya, tetapi dampak dari kosongnya stok BBM dibeberapa SPBU di Barito Utara.

“Untuk minyaknya ada, tetapi karena kondisi beberapa SPBU ketersediaan BBM jenis pertalite dan pertamax kosong maka larinya pasti kesini (red:SPBU Perusda). Sudah mau sebulan ini antrian disini panjang terus,” ujar Asianoor.

“Disini memang kita batasi, kalau roda dua maksimal 130 ribu rupiah, untuk roda empat atau roda enam kalau tidak salah 300 ribu atau 500 ribu rupiah. Dan isinya tidak setiap hari. Dua hari sekali,” tambahnya.

Persoalan minimnya ketersediaan BBM di Barito Utara, awak media sudah mencoba menghubungi salah satu petugas pertamina wilayah Kalteng, namun hingga berita ini terbit belum ada jawaban. (Arnold/red)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
x
Seedbacklink