Balikpapan – Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin, pulang dengan misi baru dari Forum Orkestrasi Pembangunan Negeri di Balikpapan beberapa waktu lalu. Ia bertekad mempercepat pembangunan di Bumi Iya Mulik Bengkang Turan lewat kolaborasi yang lebih taktis, fleksibel, dan responsif.
Forum yang mempertemukan kepala daerah se-Kalimantan Tengah ini menyoroti sejumlah persoalan mendesak: angka pengangguran yang masih tinggi, kemiskinan ekstrem yang tak kunjung usai, hingga perlunya inovasi pembiayaan alias creative financing.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, yang hadir dalam forum tersebut mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik global saat ini berdampak langsung pada stabilitas harga BBM dan pangan di daerah.
“Sinergi antar daerah tidak boleh kaku. Harus lebih fleksibel dan langsung menyasar isu sektoral agar bantuan pemerintah lebih cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.
Pesan Wamendagri itu disambut serius oleh Bupati Shalahuddin. Ia menilai bahwa birokrasi yang terlalu kaku justru menjadi penghambat utama bagi masyarakat yang membutuhkan solusi cepat.
Mantan Kadis PUPR Provinsi ini menyatakan kesiapannya membawa pulang “semangat orkestrasi” ke Barito Utara. Ia menekankan pentingnya kerja sama yang “sat-set” —istilah lokal yang berarti cepat, tepat, dan tanpa basa-basi—antar instansi demi menyelesaikan masalah fundamental.
“Fokus kita adalah bagaimana daerah bisa lebih cepat dan tepat dalam mengeksekusi program. Sinergi ini akan kita pertajam melalui kolaborasi lintas sektor yang lebih taktis, selaras dengan target kita menekan angka stunting dan menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi yang berkelanjutan,” ujar Shalahuddin.
Menurut Bupati, orkestrasi pembangunan bukan sekadar rapat koordinasi biasa. Ia harus diikuti dengan gerakan nyata di lapangan. Setiap perangkat daerah di Barito Utara diminta bergerak seirama, mengelola anggaran dan program kerja dengan perspektif baru yang lebih lincah.
Partisipasi aktif dalam forum ini diharapkan menjadi titik balik bagi Barito Utara. Dengan kolaborasi lintas sektor yang taktis dan responsif, target penurunan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, dan pengendalian inflasi bukan sekadar angan-angan.
“Dengan semangat orkestrasi, setiap lini pembangunan harus bergerak seirama. Tidak ada lagi ego sektoral,” pungkasnya.
Barito Utara kini menanti aksi nyata. Bisakah kolaborasi “sat-set” itu benar-benar diwujudkan? (Old
Tidak ada komentar