Ketua DAD Barut Luruskan Isu Miring Kunjungan ke PT BEK: Saya Bayar Sendiri dan Tak Ada untuk Pertebal Kantong

redaksi
13 Jun 2026 20:52
2 menit membaca

MUARA TEWEH – Setelah hampir tiga tahun menjabat, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Barito Utara, Haji Amir Mahmud, akhirnya melakukan audiensi dengan salah satu perusahaan di wilayahnya. Kunjungan ke PT BEK itu sontak memicu berbagai tudingan miring di masyarakat. Kini, Amir angkat bicara.

Dalam klarifikasi yang disampaikan, Jumat (13/6), Amir menegaskan bahwa audiensi tersebut tidak memiliki kaitan dengan pemasangan portal atau bambang pali di lahan sengketa, seperti yang belakangan ramai diperbincangkan.

“Tujuan audiensi adalah silaturahmi dan perkenalan pengurus DAD dengan pihak perusahaan. Bukan untuk mensosialisasikan aturan apalagi pelarangan pemasangan portal atau bambang pali,” tegas Amir.

Ia menjelaskan, dalam pertemuan itu dirinya hanya menyampaikan agar setiap persoalan sengketa lahan tidak sampai memicu konflik. “Sebaiknya semua pihak mengedepankan musyawarah dan mufakat, sehingga ditemukan jalan keluar yang damai, adil, dan saling menguntungkan,” ujarnya.

Amir juga merujuk pada arahan Ketua Umum DAD yang meminta agar tidak terjadi pemasangan portal maupun bambang pali yang berpotensi menimbulkan ketegangan. Namun ia menegaskan, DAD tidak memiliki wewenang untuk mengatur, memerintahkan, atau melarang tindakan di lapangan.

“Kami hanya mendorong penyelesaian melalui dialog, musyawarah, dan pendekatan adat yang mengedepankan perdamaian serta kearifan lokal,” tambahnya.

Lebih lanjut, Amir mengungkapkan fakta mengejutkan. Dari sekitar 60 perusahaan yang beroperasi di Barito Utara, baru PT BEK yang ia kunjungi sejak terpilih hampir tiga tahun lalu. Menurutnya, kunjungan itu murni untuk menjalin komunikasi yang baik dengan investor.

“Sebagai lembaga adat, DAD mendukung iklim investasi yang sehat, aman, dan kondusif. Investor bisa menjalankan usaha dengan nyaman, namun tetap menghormati masyarakat, adat istiadat, dan peraturan yang berlaku,” jelasnya.

Yang paling ditekankan Amir adalah soal biaya. Ia bersikeras bahwa kunjungan tersebut dilakukan dengan kendaraan dan biaya pribadi. Tidak ada fasilitas atau pembiayaan dari perusahaan.

“Oleh karena itu, saya sangat menyayangkan dugaan tidak bertanggung jawab seolah-olah kunjungan itu untuk kepentingan pribadi atau ‘mempertebal kantong’. Pernyataan seperti itu tidak berdasar,” tegasnya dengan nada kecewa.

Ia menegaskan, audiensi yang dilakukan murni dalam rangka menjalankan tugas kelembagaan. “Kami tegak lurus menjalankan amanah organisasi. DAD adalah mitra, pengawas sosial, penjaga nilai adat, serta pendorong hubungan harmonis antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha,” pungkas Amir.

Dengan klarifikasi ini, ia berharap tidak ada lagi kesalahpahaman dan informasi keliru yang beredar di tengah masyarakat. (Rizali/Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
x
Seedbacklink

You cannot copy content of this page