MUARA TEWEH – Munculnya laporan virus influenza H3N2 atau yang disebut “Super Flu” di wilayah tetangga, Kalimantan Selatan, disikapi dengan kewaspadaan penuh oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Meski hingga saat ini belum ada laporan resmi kehadiran virus tersebut di wilayah setempat, otoritas kesehatan telah bersiap menggelar langkah antisipatif.
Kepala Dinkes Barito Utara, Pariadi, AR., menegaskan kesiapannya mengikuti instruksi Dinkes Provinsi Kalteng. “Kami akan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang ada sesuai instruksi,” tegasnya, Selasa (6/1).
Secara klinis, virus H3N2 memiliki kemiripan dengan influenza musiman biasa, namun dengan beberapa karakteristik berbeda. Virus varian baru ini dikaitkan dengan cuaca lembab, dan rentan menyerang semua kelompok usia, mulai dari bayi, anak-anak, hingga dewasa. “Berbeda dengan flu biasa yang biasanya lebih sering menyerang orang dewasa,” jelas Pariadi.
Masa inkubasinya sekitar dua minggu dengan gejala batuk, pilek, dan demam yang bisa sembuh sendiri. Namun, tingkat keparahannya lebih tinggi. “Sensasinya lebih kuat, demamnya lebih kuat, batuknya lebih kuat. Makanya disebut super flu,” ujarnya. Untuk antisipasi awal, masyarakat disarankan menyiapkan obat penurun demam dan pereda gejala.
Hingga kini, belum ada rilis resmi khusus dari WHO, CDC, maupun Kementerian Kesehatan RI mengenai status virus ini. Dinkes Barito Utara berjanji terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk pemantauan.
Pariadi menekankan, kunci pencegahan ada pada kesadaran individu. “Intinya, menjaga kebersihan, cuci tangan, jaga jarak jika ada yang flu, olahraga teratur, istirahat cukup, dan makan bergizi,” imbaunya. Peringatan ini penting mengingat Barito Utara merupakan daerah dengan intensitas transit tinggi, sehingga potensi ledakan penyakit bisa terjadi kapan saja.
“Masyarakat diharapkan tidak panik berlebihan, tetapi tetap waspada,” tambahnya. Ia meminta masyarakat segera melaporkan ke fasilitas kesehatan terdekat jika merasakan gejala tidak biasa. Pelaporan yang cepat dinilai crucial untuk mencegah penularan luas dan memastikan penanganan dini.
Pada akhirnya, dibutuhkan peningkatan kesadaran kolektif untuk membangun ketangguhan masyarakat menghadapi ancaman penyakit. “Dengan budaya hidup sehat, diharapkan masyarakat lebih mampu menjaga kesehatan diri dan lingkungan,” pungkas Pariadi. (Old)
Tidak ada komentar